Alasan

Umumnya, ketika kamu melanjutkan jenjang pendidikan dari SMA ke S1 membutuhkan waktu 4 tahun. Saat itu, saya memilih jalan lain. Saya melanjutkan jenjang pendidikan dari SMA ke D3 yang mana membutuhkan waktu 3 tahun. Alasan saya melanjutkan D3 waktu itu adalah saya ingin cepat bekerja, punya penghasilan tetap, dan tidak ingin menyusahkan orang tua. Itu pilihan yang saya ambil di tahun 2013.

Waktu pun berlalu, tahun 2021 saya memiliki motivasi untuk melanjutkan jenjang pendidikan dari D3 ke S1. Ada tiga faktor yang mempengaruhi saya. Pertama, saya terkontaminasi oleh inovasi yang diumumkan oleh Apple di acara WWDC 2020. Di tahun itu, Apple berinovasi melakukan transisi SoC (System on Chip) dari Intel ke Apple Silicon pada lini Mac. Umumnya, CPU, GPU, dan RAM berada di tempat yang berbeda dalam motherboard sebuah komputer sehingga secara mata telanjang pasti membutuhkan waktu untuk berkomunikasi dan berbagi sumber daya. Apa yang dilakukan Apple adalah menggabungkan CPU, GPU, dan RAM dalam satu kotak kecil dan berbagi sumber daya secara efisien dengan performa teruji. Sebuah inovasi yang sederhana namun luar biasa!

It blows my mind! 🤯

Kedua, saya termotivasi dari Podcast Ujung Ke Ujung yang dibawa oleh Asep Bagja dan Radita Liem. Ada dua episode yang saya dengar yaitu episode #2 berjudul Seberapa Penting Pendidikan Lanjut di Bidang IT? dan episode #5 Berkarir Di Industri Riset High-Tech. Dari dua episode ini, saya berkesimpulan bahwa pendidikan lanjut itu sangat penting bila ingin berkarir di industri riset high-tech. Ini dibuktikan saat Radita Liem bercerita bahwa kenalannya berasal dari dunia pendidikan diajak berkolaborasi oleh Apple untuk improvisasi LLVM. Bila saya ditanya tentang apa itu LLVM, mungkin saya bisa menjawab bahwa LLVM ini adalah tulang punggung utama dari semua bahasa pemrograman yang kita pakai untuk produktivitas kita dalam membuat perangkat lunak.

Ketiga, saya ingin melengkapi langkah saya dari 3/4 menjadi 4/4. Walaupun, realitanya menjadi 5/4. Angka 4 sebagai penyebut adalah 4 tahun seseorang melanjutkan jenjang SMA ke S1. Angka 3 sebagai pembilang adalah 3 tahun seseorang melanjutkan jenjang SMA ke D3. Angka 5 sebagai pembilang adalah kombinasi 3 tahun dari SMA ke D3 dan 2 tahun dari D3 ke S1.

Tempat Kuliah, Biaya, dan Komitmen

Saya memilih opsi kuliah sambil bekerja dengan situasi daring (online) dan jurusan yang saya pilih harus linear dengan jurusan saya sebelumnya yaitu D3 Manajemen Informatika. Ekspektasi saya adalah saya bekerja di pagi hari hingga sore hari, lalu kuliah di sore hari hingga malam hari. Saat itu ada dua tempat yang memenuhi ekspektasi saya yaitu Universitas Terbuka dan Universitas Bina Nusantara (Binus). Saat itu, saya hanya tahu sedikit tentang Binus dan tidak tahu tentang Universitas Terbuka. Setelah bertanya ke ibu saya, Universitas Terbuka ternyata sudah ada sejak tahun 1984. Ada figur publik yang melanjutkan studi di Universitas Terbuka seperti Kamasean dan di saat pandemi Universitas Terbuka sedang aktif mempromosikan keberadaan mereka untuk memberikan kemudahan bagi mereka yang ingin kuliah daring sambil bekerja. Universitas Terbuka juga merupakan universitas di bawah naungan pemerintah dan akreditasinya baik. Namun, pilihan saya jatuh kepada Binus karena Binus menyediakan program studi yang saya cari yaitu Ilmu Komputer / Computer Science.

Binus menyediakan program kuliah bernama Binus Online Learning yang didirikan sejak tahun 2009. Dalam waktu 14 tahun, program ini benar-benar daring sepenuhnya. Mulai dari kuliah hingga skripsi, kecuali wisuda karena wisuda harus hadir secara langsung. Biaya kuliah di Binus Online Learning ini cukup mahal namun cukup sepadan dengan fasilitas dan layanan yang diberikan. Saya menceritakan proses masuk dan biaya kuliah di Binus Online Learning dalam sebuah video berjudul Persiapan Masuk & Biaya Kuliah di Binus Online Learning. Singkat cerita, saya mengeluarkan biaya mendekati 47 juta rupiah untuk kuliah 2 tahun di Binus.

Waktu dan biaya adalah ujian bagi saya untuk berkomitmen penuh untuk menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saat orientasi hingga kuliah pada semester pertama, saya masih belum bisa menyesuaikan diri dengan program kuliah daring Binus. Semua jadwal tersusun secara sistematis mulai dari video conference bersama dosen, menjawab forum diskusi tertulis, mengerjakan tugas individu dan kelompok, dan ujian daring. Saya hampir menyerah di semester pertama karena merasa itu adalah sebuah beban dan saat itu situasi keluarga saya masih dalam suasana adaptasi secara batin dan ekonomi setelah bapak meninggal saat Covid-19. Syukur sekarang semua itu sudah selesai dan saya bisa menuju ke tahap selanjutnya.

Penutup

Saya telah selesai wisuda di acara Wisuda 68 Binus pada hari Sabtu, 18 November 2023 di Jakarta Convention Center. Tulisan ini bertepatan 3 bulan setelah saya wisuda. Apa selanjutnya? Pertanyaan ini kadang melintas di kepala dan beberapa teman kantor nyeletuk untuk menyuruh saya lanjut kuliah S2 setelah saya lulus S1. Saya menempuh jenjang D3 ke S1 adalah sebuah masalah yang saya buat sendiri untuk idealisme melengkapi perjalanan 4/4 yang menjadi 5/4. Ibarat saya baru selesai dengan masalah yang saya buat sendiri lalu sekarang saya harus membuat masalah lagi untuk diri saya sendiri.

Kita membuat masalah untuk diri kita untuk terlihat produktif. Sebuah ironi.

Hal yang cukup menguntungkan adalah saya sudah memiliki prasyarat bila ingin melanjutkan ke jenjang S2. Bila saya ingin melanjutkan S2, topik apa yang ingin saya ambil? Apakah saya sudah menyiapkan biaya dan waktu untuk melanjutkan S2? Apakah saya sudah siap berkomitmen untuk menyelesaikan S2 tepat waktu? Bila saya sudah selesai S2, model pekerjaan seperti apa yang saya inginkan?

Saya memiliki jawaban untuk pertanyaan pertama dan keempat tadi. Pertanyaan pertama, ada dua sampai tiga topik yang ingin saya ambil dan tekuni. Saya tidak mau mengucapkannya di sini karena masih rahasia. Pertanyaan ketiga, bila saya sudah selesai S2, saya ingin bekerja sebagai peneliti yang berkolaborasi dengan industri seperti cerita Podcast Ujung ke Ujung tentang berkarir di Industri Riset High-Tech. Jika itu pilihan saya maka Indonesia saat ini belum menjadi tempat terbaik bagi saya karena saya belum yakin dengan iklim industri riset high-tech di Indonesia.

Kalimat penutup di tulisan ini adalah sebuah kritik terkait sistem Uang Kuliah Tunggal di perguruan tinggi Indonesia. Niat awalnya mulia yaitu membantu orang-orang dengan kekurangan biaya bisa kuliah dengan cara orang-orang kaya menanggung sebagian beban mereka. Namun, akhir-akhir ini terjadi fenomena yang menyedihkan salah satunya pinjaman online. Semestinya perguruan tinggi tidak memasang pernyataan keras di bawah ini.

BIAYA PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI YANG MAHAL ITU ADALAH HALANGAN AWAL HANYA UNTUK ANDA YANG TIDAK BERKOMITMEN MENYELESAIKAN PENDIDIKAN TEPAT WAKTU!

Jika ada ide bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah di atas adalah kembalikan sistem uang kuliah di awal. Satu biaya untuk semua orang terlepas dia kaya maupun miskin. Pihak perguruan tinggi membuka beasiswa swadaya untuk mereka yang miskin namun memiliki komitmen untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Komitmen itu ditunjukkan dengan cara mereka membuat surat mengapa ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, target apa yang ingin mereka capai seperti calon mahasiswa ingin melanjutkan studi di universitas terkemuka seperti Stanford atau Harvard dengan membuat esai.