6 Desember 2025. 10 bulan setelah saya berulang tahun di usia ke-30. Semua jawaban yang membuat kalian (mungkin) ingin tahu ada di sini.

Kapan Menikah?

Waktu itu, saya tidak memiliki pemikiran untuk menikah karena paras saya kurang bagus, tinggi saya juga kurang bagus, dan semuanya kurang bagus. Mungkin pas-pasan bahkan terlalu ngepas. Saya merasa tidak pantas untuk menikahi perempuan pilihan saya. Itu terjadi saat tahun 2021, setelah bapak meninggal. Saya menangis karena perencanaan ekonomi keluarga benar-benar kacau. Bapak tidak meninggalkan apapun kecuali rumah dan motor. Ada asuransi yang tidak bapak sadari untuk dicairkan sebesar 90 juta rupiah (60 juta adalah bonus kematian). Namun, seiring berjalannya waktu, uang sebesar 90 juta rupiah itu tidak bisa bertahan lama untuk ibu, saya, dan kedua adik saya. Meskipun saya dan adik bungsu sudah bekerja namun penghasilan kami pas-pasan untuk mempertahankan kebutuhan pokok dan sangat (sangat) sulit untuk menyisihkan uang untuk dana darurat ataupun rencana masa depan. Kami belum berpikir bisnis saat itu (sampai sekarang).

Bulan Juli 2021, saya memutuskan melanjutkan studi dari jenjang D3 ke S1 di Binus. Tujuannya untuk melengkapi “langkah” dari 3/4 ke 4/4. Angka 4 adalah angka yang dipakai untuk menentukan waktu menyelesaikan S1 di Indonesia yaitu 4 tahun. Studi ini semua serba daring. Jadi, saya bisa bekerja di pagi hari sampai sore, lalu kuliah di sore hingga malam hari. Singkat cerita, saya lulus tepat waktu di tahun 2023 dan di wisuda di Jakarta bulan November 2023. Senin kemudian, saya pergi ke Bandung untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman kantor. Sekaligus membeli oleh-oleh untuk seorang perempuan yang bekerja di Bandung. Sayangnya saya tidak bisa bertemu dengannya waktu itu karena dia sedang sibuk dan sore itu juga saya harus balik ke Jakarta dan esok sore saya sudah berada di Denpasar. Selama di Bandung, kami bercakap-cakap di WhatsApp dan ada satu hal yang saya lewatkan dan sesali hingga sekarang: menyatakan rasa suka (lagi) kepadanya. Namun, saya bermain kode dengan memberikan oleh-oleh kepadanya dan mestinya dia tahu kode dari saya. Kenapa? Karena perempuan ini adalah adik kelas saya waktu SMA dan kakaknya adalah teman baik dan satu kelas dengan saya. Ibu saya tahu bahwa saya suka dengan perempuan ini dan tidak ada kesan negatif sama sekali. Sempat saya mencoba bercakap-cakap kembali dengannya setelah saya di Bali namun responnya seperti dingin dan tidak sehangat waktu di Bandung. Itu yang saya rasakan waktu itu. Entah responnya di Bandung waktu itu dibuat-buat atau tidak entahlah saya tidak tahu. Yang jelas saya masih menyesali sikap saya waktu itu. Akhirnya, penyesalan itu membuahkan penyesalan berikutnya. Di bulan Februari atau Maret 2024, saya melihat status WhatsApp-nya bahwa dia sudah bertunangan dan menikah. Saya kaget, sedih, dan bergumam “Kenapa saya tidak menyatakan perasaan saya waktu itu?”. Terlepas ditolak atau diterima, setidaknya perasaan saya waktu itu mestinya lebih lega dari sekarang. Sikap saya setelah itu adalah menghapus kontaknya dari WhatsApp saya. Tidak diblokir, hanya dihapus. Kenapa? Saya ingin melindungi diri saya dan dia agar tidak terjadi hal-hal yang merepotkan di kemudian hari. Itu adalah bentuk penghormatan saya kepadanya.

Saya tidak menceritakan hal ini kepada ibu saya hingga ibu saya meninggal di bulan April 2025. Kini saya menjadi kepala keluarga bagi kedua adik saya. Kemudian, di saat yang berdekatan, ibu dari kakaknya baru sembuh dari kecelakaan dan saya meminta ijin untuk mampir ke rumah orang tuanya setelah prosesi kremasi ibu saya selesai. Di bulan Mei 2025, saya berkunjung ke rumah orang tuanya, hanya mereka berdua, anak-anak mereka sudah merantau. Ini adalah pertemuan pertama saya dengan kedua orang tuanya. Semua hal bahkan hal-hal rahasia yang bahkan anak-anaknya sendiri tidak tahu diceritakan kepada saya. Saya sendiri juga lupa apa saja rahasia tersebut. Yang pasti itu adalah rahasia yang tidak pernah diceritakan kepada anak-anaknya. Percakapan berlangsung sampai 3 jam lebih. Saya sendiri agak kurang ajar waktu itu kenapa terlalu lama-lama bercakap-cakap dengan orang tua teman saya (maafkan saya). Dari percakapan tersebut, ada satu hal yang menghilangkan kabut di kepala saya, yaitu usia pernikahan. Orang tua mereka ingin menikahkan anak-anak mereka di usia reproduktif (di atas 25 tahun dan di bawah 30 tahun) karena mereka belajar dari pengalaman mereka saat menikah dengan perbedaan usia yang terpaut jauh yaitu 12 tahun. Percakapan pun selesai dan saya pun pulang. Saya berkeinginan untuk menengok mereka lagi dalam waktu dekat dengan dua alasan. Pertama, mereka hanya berdua dan minimal ada “anak” yang memperhatikan secara fisik. Kedua, sekilas wajah kedua orang tua teman saya mirip seperti kedua orang tua saya. Entahlah, mungkin saya terlihat membuat-buat alasan ini. Namun, inilah perasaan yang saya rasakan ketika sudah tidak memiliki orang tua.

Dari perenungan tadi, saya sempat berpikir bahwa sepertinya Tuhan memberi saya opsi waktu itu (Bandung, November 2023). Tuhan seolah-olah berbicara “Apakah kamu berani mengambil pilihan itu?” Jika saya mengambil opsi itu setelah saya (telah) mengutarakan perasaan saya dan dia menerimanya (khayalan) maka (kemungkinan besar) kedua orang tuanya akan mendesak saya untuk menikah segera. Namun, di sisi lain saya masih belum benar-benar mapan ketika ditinggal bapak saat itu. Akhirnya, saya tidak mengambil opsi itu dan dia akhirnya memilih orang lain. Ini adalah penyesalan terbesar kedua setelah saya kehilangan ibu saya.

Sejak saat itu saya benar-benar tidak ingin memaksakan diri untuk menikah dan menunggu diri saya hingga benar-benar mapan seutuhnya. Ada beban yang sangat berat (entah saya pantas menyebutnya ini beban yang sangat berat) yang sedang saya hadapi setelah kedua orang tua meninggal. Menjadi kepala keluarga, menghidupkan (renovasi) rumah peninggalan bapak, memiliki rumah pribadi, memiliki uang yang sangat berlebih untuk masa depan saya, (entah kemungkinan) adik-adik saya menikah suatu hari nanti, dan seterusnya. Saya juga tidak mau menurunkan standar untuk perempuan yang saya pilih (siapapun itu) karena jika saya menurunkan standar maka saya tidak mencintainya sepenuh hati sampai mati. Maka dari itu, biarlah saya tetap melajang untuk sekarang. Saya mau menata masa depan saya menjadi individu yang jauh lebih baik.

Dalam Waktu Dekat

Saat ini, saya sudah diberikan rejeki oleh Tuhan bekerja dari rumah di perusahaan milik orang Jerman tetapi perusahaan ini memiliki badan usaha yang legal di Indonesia. Itu artinya, saya mendapatkan upah layaknya saya tinggal di Indonesia yang mana saya rasakan ini sangat tidak cukup untuk kebutuhan saya dalam waktu jangka panjang. Saat ini saya berada dalam posisi masa percobaan selama 6 bulan dan saya berharap semua berjalan baik-baik saja. Kemudian, saya menyisihkan cukup banyak uang sebagai aset modal untuk usaha perak paman (saudara bapak nomor 5) dan bibi saya. Saya perlu melakukannya karena paman dan bibi saya adalah pekerja keras dan usaha perak ini sudah ditekuni mereka sebelum saya lahir di dunia ini. Saya sebagai keponakan sangat salut dan bangga terhadap paman saya ini. Maka dari itu saya berkomitmen secara bisnis memberikan pinjaman modal kepada paman saya (tanpa bunga). Sampai hari ini modal dikembalikan dengan baik dan saya bangga. Akibatnya, ya… Dana darurat saya terkikis habis. Wkwkwkwk. Ya sudah, saya yakin masih bisa mengumpulkannya lagi. Tuhan dan leluhur pasti akan memberikan pintu rejeki yang seluas-luasnya kepada saya. Amin.

Masa Depan

Apa yang saya ceritakan barusan adalah sebagian kecil dari kisah hidup saya. Jika saya ceritakan lengkap maka akan jadi otobiografi. Hahaha. Saya tidak mau itu dan saya tidak tertarik karena saya tidak suka menjadi orang yang (sangat) penting. Biarlah saya berada dibalik layar dan memantau semuanya dari jarak jauh. Keinginan saya adalah bekerja atau menempuh studi di luar negeri dengan kapasitas pengetahuan saya yang bergelut di ilmu komputer. Jika di luar negeri maka relasi saya akan sangat luas dan penghasilan saya akan sangat berkecukupan jika dibawa ke Indonesia. Keinginan ini tidaklah mudah dan perlu usaha (super) luar biasa untuk mencapainya. Saya harus berusaha 10x, 100x dari yang sekarang!