Hai ma! Selamat hari ibu. Biasanya Na dan adek-adek ngucapin hari ibu ke mama sambil senyam senyum dan peluk mama. Respon mama kadang datar, kadang senyam-senyum, kadang kaya jual mahal. Gado-gado lah pokoknya.

Ma, tanggal 4 Desember lalu, Pekak Tirta meninggal. Sepertinya mama dan bapak pasti sudah bertemu dengan pekak di sana. Hmm, Na ngga tahu sih apakah tempat itu benar-benar ada atau tidak karena Na belum pernah melihatnya. He he, jangan dulu ya! Masih banyak yang mesti Na wujudkan di dunia ini.

Mama dan bapak sepertinya sudah tahu kan mengapa Na belum menikah setelah berada di sana. Hmm, walaupun bapak dan mama tidak ada menekankan anak-anaknya untuk menikah dan Na sepertinya sudah bisa menebak apa alasan sebenarnya. Ya, biarlah itu menjadi rahasia kita bertiga. He he he.

Ma, ternyata gini ya rasanya jadi kepala keluarga. Kalau orang lain bercita-cita menjadi kepala keluarga dengan melepaskan diri dari KK orangtuanya dengan cara menikah. Na tanpa diminta tiba-tiba sudah menjadi kepala keluarga (tertulis di Kartu Keluarga). Syaratnya: bapak dan mama harus meninggal. Sebuah syarat yang benar-benar gila! Na berdoa semoga bapak dan mama menuntun Na dari sana. Na bakal tetap ingat dan menjalani petuah-petuah baik dari bapak dan mama.

Ma, di bulan Desember ini, Na pelan memberi Dyah modal untuk belajar membuat cemilan Kentang Mustofa. Na sudah bagikan ke beberapa tetangga yang benar-benar membantu kita semasa sulit dan beberapa temannya Na. Na berharap di tahun depan Dyah bisa jualan dan bisa seperti mama. Na bangga punya adek seperti Dyah dan Aya. Na berterima kasih banyak kepada bapak dan mama sudah berjuang sampai akhir membesarkan Dyah dan Aya dengan keterbatasan fisik yang mereka alami di masa kecil yang bahkan mungkin orang tua lain tidak akan bisa seperti bapak mama. Terkadang, Na sering membandingkan Dyah dan Aya dengan adik-adik temannya Na (ya mama tahulah siapa). Tapi, ya sudahlah biarlah itu jadi angin lalu. Sekarang Dyah dan Aya sudah besar dan Na masih mau menuntun mereka sampai jadi orang yang mandiri.

Ma, menuju akhir Desember ini, Na dan adek-adek akan berkunjung ke beberapa rumah untuk berbagi cemilan. Minimal untuk mengisi waktu luang agar kita tidak selalu di rumah. Oh iya ma, tanggal 24 ini Na sepertinya mulai libur. Na ajuin cuti sampai 2 Januari 2026. Banyak waktu luang yang diberikan untuk Na untuk menyiapkan beberapa di tahun depan. Ya, mama pasti tahu apa itu karena mama sudah di alam sana.

Ma, Na mau mengucapkan terima kasih banyak sudah membuka jalan untuk Na bekerja dari rumah. Akhirnya, Na bisa resign setelah 8 tahun bekerja di perguruan tinggi di Bali dan mendapat tempat kerja baru bersama warga dunia-warga. Walaupun penghasilan yang Na dapat belum mencukupi (karena Na menjadi kepala rumah tangga), Na harus syukuri. Mama Han sempat bilang bahwa ini adalah jalan dari Tuhan yang diberikan kepada Na. Tapi, entah kenapa Na lebih condong bahwa ini jalan yang diberikan oleh mama. Sama seperti bapak memberikan jalan kepada Na untuk melanjutkan kuliah S1 di tahun 2021 setelah bapak meninggal. Ma, Na berharap di tempat kerja yang baru ini, Na semakin profesional, semakin mahir, dan semakin bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, jangan sampai Na kelamaan di sana nanti kaya 8 tahun di perguruan tinggi di Bali. Wkwkwkwk.

Oh iya ma, akhirnya motor-nya bapak berhasil dibalik nama atas namanya Aya. Fyuhh, setelah bolak balik dari samsat Mengwi, samsat Renon, polda Renon, dan samsat Mengwi, akhirnya selesai juga. Lumayan hampir menghabiskan uang 1 juta rupiah. Wkwkwkwk.

Ma, tanggal 31 Desember, Aya ulang tahun. Sepertinya Na dan adek-adek akan merayakan ulang tahun Aya di tempat restoran Jepang di Mall Bali Galeria seperti tahun lalu. Hmm, mudah-mudahan ada film yang menarik. Jadi, setelah nonton, langsung deh ke restoran Jepang. Ma, walau keliatannya Aya jarang nangis dan terlihat tegar, Na yakin dibalik layar dia pasti ada rasa sedih kehilangan mama sama seperti Na dan Dyah.

Ma, tahun depan sudah 2026. Na ada beberapa angan yang ingin Na wujudkan di tahun ini agar Na dan adek-adek semakin bahagia. Oh iya ma, Na mau berdoa supaya rejekinya Na dilancarkan ya. Sederas-derasnya. Banyak hal yang ingin Na capai dengan rejeki ini. Na bakal berusaha lebih keras lagi dan sekuat tenaga.

Ma dan bapak, Na berharap agar paman-paman dan bibi-bibinya Na diberi umur panjang dan sehat. Na berharap bisa membahagiakan mereka khususnya Pak De dan Temuk. Ingin sekali Na mengajak mereka ke Australia, berlibur dan bertemu dengan teman-teman mereka. Hmm, kalau boleh mungkin bisa Na dikasih jalan agar kuliah di Australia atau mendapat visa kerja di sana dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. :)

Ma dan bapak, Na menjalani apa yang dikatakan oleh Pak De: “Yadnya terbesar adalah bukan yadnya kepada Tuhan tetapi yadnya kepada manusia. Jagalah manusia, rawatlah manusia.” Mungkin Na mau nambahin lagi satu: “Yadnya kepada alam. Jagalah alam dan rawatlah alam.” Na benar-benar sedih dengan apa yang terjadi di Aceh dan Sumatera. Na benar-benar kecewa dengan kebijakan yang dihasilkan oleh mayoritas pejabat publik.

He he he. Biasanya orang memanjatkan doa di media sosial. Sekarang, anakmu memanjatkan doa di kanal blog-nya pribadi. Benar-benar sebuah pencapaian 3.0. Ha ha ha.

Ma dan bapak, kira-kira bapak dan mama baca tulisan ini kah? Maaf, Na masih belum boleh ke sana. Na masih harus di sini dalam umur yang cukup panjang. Masih banyak hal yang harus Na lakukan dan Na gapai. Dyah dan Aya masih harus diperhatikan dan dituntun. Walau Na sering bercanda soal “kematian” ke mereka berdua. Tetapi, itu hanya candaan. Tolong kasih kami bertiga kesehatan dan umur yang panjang sampai saatnya tiba.