Bulan Februari tahun ini adalah bulan “marathon” bagi saya. “Marathon” ini seperti saya dikejar banyak target dan tenggat waktu dari kerjaan dan kuliah. Waktu itu mulai tanggal 2 Februari hingga hari ini 20 Februari 2022, saya benar-benar dipaksa buat “marathon”. Padahal posisi saya waktu itu masih dalam fase jalan santai namun diminta “marathon”.

Saya berpikirnya begini waktu itu kalo diminta “marathon” maka orang-orang yang terlibat dalam kegiatan saya juga harus “marathon” dong. Tapi, ternyata tidak seperti itu. Mereka juga ternyata mengambil posisi jalan santai sama seperti saya. Arrgh, kesal sekali!

Aktivitas “marathon” waktu itu dari tanggal 2 Februari hingga hari ini 2022 antara lain kerja, kuliah, urusan keluarga, ujian tiga mata kuliah. Saya seperti kehilangan kendali diri saya atas aktivitas “marathon” ini. Pikiran saya mulai ke mana-mana waktu itu. Hasil dari aktivitas ini badan saya capek (sekali) dan pikiran-pikiran negatif muncul waktu itu.

Entah semesta mendukung dan Tuhan memang masih sayang pada saya, saya mendapat sebuah nasihat seperti ini.

“Kalo ada beban banyak tertawakan saja beban tersebut. Cobalah kamu tertawa minimal 10 menit, saya yakin pikiran dan tubuh kamu akan baik-baik saja dan tentunya semakin sehat”

“Aneh ya, kok beban mesti ditertawakan?” pikir saya. Saya kalo dikasih beban biasaya saya malah makin mikir dan pingin mengakhiri beban tersebut namun efek sampingnya tidak baik bagi saya. Cuma, mendengar nasihat tersebut akhirnya saya coba saja. Kalo ada beban (banyak) tertawakan saja. Ha ha ha ha aha aha aha aha.

Setelah 3 sampai 5 hari sejak mendapat nasihat itu, saya baru sadar ternyata yang menciptakan beban dan membuat beban itu terasa berat adalah diri saya sendiri. Bodohnya saya, saya hanya bisa senyum-senyum sendiri.

Saya terlalu fokus mengkhawatirkan hari esok dan masa depan sehingga saya tidak fokus pada hari ini. Padahal hari ini kondisi saya sehat-sehat saja. Ternyata pikiran saya yang lari kemana-mana.

Saya pun baru bisa menulis hari ini setelah menyelesaikan ujian 3 mata kuliah. Perasaan saya sekarang? Plong, lega sekali. Jujur saja, saya tidak ada persiapan berminggu-minggu untuk ujian 3 mata kuliah itu karena saya sibuk dengan kerjaan dan urusan keluarga dan pikiran saya yang lari kemana-mana waktu itu.

Saya menyadari bahwa kuliah sambil bekerja tidak sama hasilnya dengan fokus kuliah saja. Kalau fokus kuliah ya pastinya saya akan mempersiapkan berminggu-minggu untuk ujian kan? Dan kakak saya bilang bahwa kalo kuliah sambil bekerja jangan berharap nilai setiap mata kuliah yang kamu peroleh bakal tinggi. Kenapa? Karena kamu membagi waktumu dengan bekerja dan istirahat. Yang penting nilai mata kuliahmu memenuhi standar minimum dan tidak ada pengulangan mata kuliah. Itu sudah lebih dari cukup!

Iya juga ya, toh saya setiap mata kuliah tidak hanya dinilai dari ujian saja. Penilaiannya bisa dari kehadiran, menjawab forum, mengerjakan tugas-tugas dan kuis.

Syukurnya 3 ujian sudah selesai dan saya sudah lebih lega sekarang!

Oh iya, saya mau bahas tentang pikiran yang lari kemana-mana karena terlalu mengkhawatirkan hari esok, minggu depan, bulan depan dan masa depan. Saya menemukan sebuah video dari Great Mind tentang Mindfullness (berpikir secara penuh bahasa kasarnya).

Dari video ini mengajarkan saya untuk memiliki kesadaran dan perhatian penuh terhadap diri saya saat ini dan detik ini. Mindfullness ini ibarat otot yang harus dilatih setiap hari namun bermanfaat bagi sekali bagi diri kita.

Dari cerita saya di atas, saya belajar banyak hal seperti kalo ada beban tertawakan saja, berusahalah untuk tertawa lebih banyak, hidup ini sebenarnya sederhana dan fokuskan perhatian dan kesadaran secara penuh detik ini, menit ini, jam ini dan hari ini, yakinlah hari esok akan baik-baik saja.

Pembelajaran di atas saya sebut dengan fase rileks. Berikutnya detoks, saya menghibernasikan akun Linkedin saya dan log-out dari akun Twitter secara penuh. Kenapa? Pertama, di Linkedin seolah-olah saya diminta untuk mengisi waktu kapan saya selesai bekerja, kapan mulai dapat kerjaan baru dan isi di Linkedin. Saya merasa terganggu. Kedua, Twitter terlalu banyak informasi yang begitu deras mengalir dan saya ingin log-out saja.

Detoks Facebook dan Instagram sudah saya lakukan dengan cara mematikan akun saya secara permanen. Detoks LinkedIn dan Twitter juga sudah dengan cara hibernasi dan log-out secara penuh. Hasilnya? Saya jauh lebih baik.

Sekarang dan seterusnya, saya ingin fokuskan perhatian saya pada hari ini dan tidak lupa untuk tertawa! Ha ha ha ah ahahahahahaha.