Setiap orang mempunyai tujuan atau impian. Entah itu mulai dari ingin membeli sebuah gadget untuk menunjang produktivitas atau ingin melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi. Untuk mencapai dua hal itu kita perlu uang yang disisihkan. Disisihkan untuk ditabung dengan harapan juga mendapatkan keuntungan walau tidak seberapa. Ya pokoknya yang penting untung.

Mau menabung atau investasi intinya sama yakni pasti ada tujuan yang jelas dan terukur yang ingin dicapai dari menabung itu sendiri.

Sebelum menuju ke pembahasan selanjutnya, saya mau membuat persepsi dengan harapan agar pembaca berada di persepsi saya. Investasi dan menabung itu pada intinya sama. Kita menitipkan uang di tempat yang kita percaya dengan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan tanpa kerugian sepeserpun. Tetapi, sepertinya hampir sulit untuk mendapatkan keinginan tersebut. Tempat yang kita percaya juga butuh biaya operasional entah dalam bentuk potongan admin atau biaya manajer investasi setiap bulan atau tahun dan keuntungan ibarat seperti jet coster yang kalau naik naik setinggi-tingginya kalau turun turun sependek-pendeknya.

Buat yang pakai reksadana atau saham pastinya kalian setiap bulan pasti setor uang ke reksadana atau saham kalian kan? Menurut saya ini juga aktivitas yang sama dengan menabung. Iuran lah istilahnya. Kenapa kalian pakai reksadana atau saham? Kalau bilang biar cepat kaya raya, eits bentar dulu. Tidak tepat kalau ingin pakai reksadana atau saham untuk cepat kaya.

Kenapa? Karena kaya raya itu relatif. Kamu mau sekaya siapa atau apa? Ujung"nya, kaya itu sulit diukur dan setiap orang punya ukuran masing-masing.

Buat saya kaya raya itu saya tidak perlu khawatir dengan pengeluaran saya sebesar 2.5 juta per bulan yang isinya buat makan sehari-hari, bayar listrik dan air, bayar tagihan internet, bayar servis motor. Kemudian punya rumah yang layak huni dan ada tanaman yang enak dilihat dan ada penghasilan tambahan yang bisa didapatkan selain dari pekerjaan utama saya.

Saya tidak perlu punya motor bagus ala N-Max, punya rumah bertingkat (buset dah bayar PBB mahal lah), punya mobil untuk menjadi kaya raya.

Sekarang fenomena ditengah pandemi atau mungkin bahkan sebelum pandemi ada adalah investasi di reksadana dan saham dengan tujuan cepat kaya raya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Buat saya, ini tidak masuk akal. Kenapa karena kaya raya itu relatif dan susah diukur.

Kondisi saya saat membuat tulisan ini pun sepertinya masih belum bisa untuk membuat aset tambahan seperti investasi di reksadana atau saham dengan tujuan mempunyai dana pensiun. Kenapa dana pensiun? Karena menurut saya itu masih bisa saya ukur. Bagaimana cara mengukurnya? Tinggal hitung saja rata-rata biaya pengeluaran kamu dan kamu mau pensiun di umur berapa. Misalnya, ingin pensiun di umur 55 tahun dan biaya pengeluaran bulanan 2.5 juta (belum termasuk kondisi inflasi). Dengan mengetahui rata-rata biaya pengeluaran sebesar 2.5 juta dan ingin pensiun di umur 55 tahun maka kamu bisa menentukan mau investasi awal dari berapa juta dan mulai rutin setor setiap bulan ke investasi tersebut berapa rupiah.

Alasan saya masih belum bisa mempunyai aset untuk dana pensiun karena saya ingin melanjutkan jenjang pendidikan, ingin membeli gawai untuk menunjang produktivitas, dan membantu ibu dan kedua adik saya bertahan hidup saat bapak sudah meninggal dunia di bulan Februari tahun 2021 karena komplikasi dan dokter memvonis bapak terkena Covid-19. Saya juga terkena Covid-19 di awal bulan Maret 2021 dan kemungkinan besar tertular dari bapak. Syukur dan puji Tuhan ibu dan kedua adik saya tidak tertular dan sekarang sudah divaksin. Tinggal saya saja yang belum karena harus melewati 3 bulan setelah terkena Covid-19.

Singkat cerita, bapak tidak meninggalkan uang sama sekali kepada kami dan kami berjuang dari nol. Syukurnya, bapak tidak ada hutang ke manapun dan saya dan keluarga berharap tidak ada penagih hutang ke rumah. Kalau ada saya yakin pasti penipuan dan pasti saya semprot pakai air buat nyiram tanaman biar cepat kabur!