Selamat hari raya Nyepi bagi pembaca yang merayakan. Sebenarnya tulisan ini ingin saya buat dan publikasi tanggal 27 Februari. Tetapi, karena saya capek (sekali) waktu itu maka saya putuskan untuk ditunda saja.

Susahnya menulis secara konsisten di hari yang sama. Hahahahahaha.

Bagaimana Anda memanfaatkan hari libur? Kalau saya waktu bulan Februari lalu memotong rambut saya dengan model orang ospek di tanggal 20 Februari. Mengingat waktu itu saya sudah janji dengan diri sendiri kalau sudah selesai menyelesaikan ujian tiga mata kuliah maka saya ingin potong rambut.

Awalnya saya ingin model rambut saya seperti Azrul Ananda, penulis situs happywednesday.id. Tetapi, saya berubah pikiran dan memulainya dari “nol”.

Hasilnya, plong! Ibu saya dan beberapa rekan kerja bilang kalau wajah saya lebih fresh! Mengundang tawa pula serta saya pun juga tertawa. Hahahahaha.

Kresna: Sebelum dan Sesudah

Menurut penelitian menyatakan kalau hidup dengan tertawa akan menghasilkan peredaran darah lancar dan oksigen masuk ke dalam tubuh. Perlu dicoba!

Sisi bagus lainnya adalah saya tidak perlu sisiran. Beban pikiran saya seperti diangkat karena setelah potong rambut.

Terkait beban pikiran, saya tahu bahwa beban pikiran ada karena “pikiran jahat”, kekhawatiran, kemarahan dan ketakutan yang saya buat sendiri tetapi saya tidak tahu cara mengatasi dan melepaskannya.

Kemudian, saya memutuskan mencoba 3 filosofi yaitu Mindfulness, Wu Wei dan Stoikisme.

Pertama, Mindfulness mengajarkan saya untuk fokus pada diri sendiri dalam satu waktu. Misalnya, saya di sini membuat tulisan berjudul “Hari Libur, Latihan Mindfulness, Wu Wei dan Stoik” saat hari raya Nyepi berlangsung lewat ponsel pintar saya.

Seringkali kita tidak “mindful” dalam arti raga kita di sini tetapi pikiran kita melayang kemana-mana memikirkan berbagai persoalan. Dengan kehadiran filosofi ini, kita bisa belajar untuk melepas berbagai persoalan tersebut dan fokus pada diri sendiri dalam satu waktu.

Mindfulness ini ibarat seperti otot dan harus dilatih setiap hari. Langkah sederhana bisa dimulai dengan latihan pernafasan sederhana sambil tersenyum.

Kedua, Wu wei, sebuah filosofi aliran Taoisme yg mengajarkan “melakukan tanpa melakukan”. Mengajarkan saya untuk tidak memaksakan kehendak dan biarkan mengalir dan ikuti aliran tersebut. Ibarat kita mengikuti harmoni alam, sejatinya hidup ini sudah harmonis tinggal kita saja yang mau mengikuti harmoni tersebut atau memaksakan kehendak terhadap harmoni tersebut. Kalau memaksa hasilnya bisa jadi jelek kalau mengikuti hasilnya bisa jadi bagus.

Saya mengenal filosofi Wu Wei dari Buku Happy Wednesday karya Azrul Ananda.

Ketiga, Stoik mengajarkan saya bahwa di dunia ini sejatinya yang bisa kita kendalikan adalah faktor internal bukan faktor eksternal. Faktor internal itu adalah diri kita sendiri dimulai dari perasaan dan pikiran kita. Bagaimana reaksi kita saat dihadapkan sesuatu yang buruk atau baik? Apa yang harus kita lakukan bila terjadi hal yang buruk atau baik?

Tahap selanjutnya dari Stoikisme adalah melatih kemalangan yakni mensimulasikan hal-hal buruk dan bagaimana langkah-langkah saya untuk menanggulangi atau menghadapi hal-hal buruk tersebut.

Ada kontra pikiran saya terkait tahap di atas seperti kalau saya mensimulasikan hal-hal buruk dan saya tidak menemukan jalan keluar saat itu juga bagaimana? Ini ibarat seperti meng-khawatirkan hari esok dan masa depan sehingga saya tidak bisa fokus pada hari ini. Bukankah tubuh dan pikiran kita harus diisi dengan energi-energi positif agar tetap sehat?

Dari tiga filosofi ini saya belajar untuk sadari diri saya sekarang ada di sini, mengikuti harmoni dan mengendalikan perasaan dan pikiran saya. Latih terus setiap hari hingga menjadi refleks hingga sampai akhir hayat.