Kalau tidak salah bulan lalu tanggal 4, saya melihat ibu saya menonton video Atta Halilintar (AHA) yang isinya tentang Atta membeli kambing untuk kurban putri pertamanya. Lantas, saya nyeletuk ke ibu “Ngapain nonton video beginian!?”. Ibu saya bilang “Ngga apa. Masih mending nonton video ini daripada nonton video salah satu artis yang jadi YouTuber sekarang! Video ini masih ada ilmunya sedikit.”

Setelah saya amati videonya dengan seksama ada benarnya ibu saya, di video itu Atta berinteraksi dengan pedagang kambing dan pedagang tersebut mengajarkan Atta membacakan doa ajaran muslim untuk potong kambing untuk kurban. Ya, ada ilmunya biar berkah kurbannya.

Sebenarnya, dari dulu saya penasaran bagaimana bisa kanal YouTube mas AHA ini memiliki jumlah subscriber besar dan diikuti dengan setiap video menembus 1 juta penonton? Untungnya, ada video yang dibuat oleh Ferry Irwandi tentang menguak algoritma Halilintar.

Pada Januari hingga September 2017 nama Atta Halilintar belum ada di daftar 15 YouTuber dengan subscriber terbanyak di Indonesia. Namun, semua berubah pada bulan Oktober 2017, nama Atta Halilintar muncul dan membalap semua 15 YouTuber tersebut hingga Oktober 2018 Atta menduduki posisi YouTuber pertama di Indonesia yang sebelumnya adalah Raditya Dika. Hal ini menyebabkan kanal Atta Halilintar dinilai sebagai pertumbuhan subscriber tercepat di dunia.

Apakah Atta Halilintar membeli subscriber? Bisa jadi, namun YouTube tidak sebodoh itu. Tentunya YouTube memiliki algoritma untuk membedakan yang mana subscriber bodong dengan asli berdasarkan perilaku subscribernya.

Kembali ke topik awal, kenapa jumlah subscriber Atta begitu besar? Karena perubahan algoritma YouTube.

Di era 2012 hingga 2016, YouTube merilis ulasan resmi bagaimana algoritma mereka bekerja. Secara garis besar, video yang dibuat oleh konten kreator akan muncul di halaman beranda tontonan YouTube kita jika memenuhi kriteria-kriteria berikut:

  1. Kualitas konten video
  2. Konsep ide menarik
  3. Durasi yang efektif
  4. Nilai rating yang tinggi

Kenapa YouTube membuat algoritma tersebut? Tentunya untuk tujuan korporasi mereka salah membangun brand dan market, komunitas, dan menggaet pelanggan sebanyak-banyaknya untuk menonton di YouTube.

Tahun 2017, YouTube mulai menyadari perubahan demografi penonton mereka dari segi jumlah dan varian-varian lainnya. Sehingga, mereka memutuskan untuk mengubah algoritma mereka untuk mendapatkan cuan salah satunya perubahan pada regulasi adsense. Bagi konten kreator salah satunya adalah video dengan durasi di atas 10 menit memiliki fleksibilitas untuk mengatur iklan di video tersebut, jika di bawah durasi maka iklan terbatas dan konten kreator kesulitan untuk mengatur di mana posisi iklan tersebut berada (entah awal, tengah atau akhir video).

Jadi, semakin panjang durasi video maka semakin besar juga keuntungan yang diperoleh YouTube.

Tahun 2018 YouTube menambahkan regulasi baru yakni konten kreator harus memiliki setidaknya 1000 subscriber dan 4000 waktu tonton publik yang valid untuk mendapatkan adsense.

Jadi, sebelum tahun 2017 YouTube menekankan pada kualitas video kalau sekarang menekankan potensi cuan yang diperoleh YouTube.

Poin yang bisa diambil dari sini adalah Atta Halilintar memenuhi kriteria algoritma YouTube yakni durasi video di atas 10 menit.

Kanal Atta Halilintar menarget mayoritas masyarakat rural yakni masyarakat yang tinggal di pedesaan yang mana akses hiburannya cukup terbatas pada sepak bola, komedi, sinetron dan gosip artis yang ada di TV yang mana mungkin saja masyarakat tersebut hanya tahu bahwa hiburan cuma ada di YouTube.

Lantas mengapa video Atta Halilintar tidak muncul di halaman beranda YouTube Anda? Karena Anda bukanlah target video tersebut alias minoritas.

Terlepas dari itu semua, jika benar mas AHA melakukan hal di atas secara sengaja maka betapa cerdiknya Mas AHA!