Hai ma! Bulan ini, Na sudah berusia 31 tahun. Tahun lalu adalah waktu di mana Na bisa menikmati kue ulang tahun buatan mama, burned cheese cake. Waktu itu Dyah pingin kue itu saat ulang tahunnya. Tetapi, mama sudah meninggalkan dunia ini. Sekarang tinggal kami bertiga di dunia ini. Mungkin Na sebentar saja akan bercerita apa yang terjadi selama hampir 1 tahun terakhir semenjak kepergian mama dan kepergian bapak 5 tahun lalu.

Pertama, Na sudah bekerja dari rumah sejak bulan September 2025. Ya, Na kerja remote dari rumah dengan profesi sama seperti programmer. Na bisa dekat dengan adik-adik khususnya Dyah. Ya… banyak lika-liku yang terjadi. Penyesuaian waktu, komunikasi, dan cara kerja bersama warga dunia. It pays off for me. A truely great experience to be more professional in the distant future. Gajinya Na naik 2 kali lipat lebih sedikit namun belum bisa untuk disisihkan banyak hal untuk dirinya. Sepertinya Na akan mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik. Bukan berarti mengecilkan makna perusahaan tempat Na kerja yang sekarang. Tetapi, manusia tidak pernah berpuas diri. Selalu ingin tumbuh dan terus maju terus ke depan. Apalagi Na sudah menjadi kepala keluarga (pengganti orang tua) untuk Dyah dan Aya. Na salut pada mereka yang benar-benar menjadi yatim piatu dan bisa bertahan hidup bahkan naik level. Na berharap bisa seperti mereka.

Kedua, Dyah sudah mulai jualan di tempat-tempat mama titip dulu. Na jadi investor untuk Dyah. Na sediakan modal untuk Dyah. Kali ini tidak jualan kue (untuk saat ini) tetapi jualan Kentang Mustofa. Kami ambil resep dari Wilgoz Kitchen dan kami jual di tempat-tempat itu. Syukurnya dalam 1 minggu sudah habis bahkan ada satu tempat yang dalam waktu 1-3 hari langsung habis. Luar biasa! Na berharap ini bisa menjadi fondasi buat Dyah menjadi lebih mandiri.

Ketiga, Aya sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya di hotel. Sepertinya dalam waktu dekat hotel akan beroperasi secara optimal setelah renovasi. Hmm, Aya akhir-akhir ini kerja dari 10 pagi dan pulang bisa jam 8 atau 9 malam lebih. Kadang Na khawatir apakah Aya sudah makan dengan baik? Mudah-mudahan semua baik-baik saja. Oh iya, sekarang dia seperti pribadi yang lebih bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Na cukup bangga dan Na berharap dia tetap sayang dengan kami sebagai kakak-kakaknya.

Akhir bulan lalu, Na ama Dyah main ke rumah orang tuanya (ya mama bisa tebak siapa). Kami bawakan cemilan buatan Dyah yang dia titip untuk jualan. Orang tuanya senang. Oh iya, bapaknya cerita bahwa anaknya (dia - orang yang waktu itu akan Na pilih) akan menikah di bulan Mei ini. Lalu, Na bergumam “Hmm, berarti waktu itu dia belum menikah? Oh…”. Sepertinya sampai sekarang kedua orang tuanya waktu itu belum tahu bahwa Na dulu pernah mencoba dekat dengannya. Ya, syukurlah. Sebaiknya biarkan saja seperti ini. Justru Na lebih nyaman untuk bermain ke rumah orang tuanya. Ya, situasi sekarang mereka tinggal berdua sedangkan ketiga anaknya pada merantau. Jadi, sesekali jika ada waktu luang Na akan mampir. Sekarang, perasaannya Na kepada dia sepertinya sudah pudar karena banyak hal yang Na pikirkan dan mesti Na jalani. Jika dipikirkan lagi ternyata benar bahwa pasangan yang LDR benar-benar menguras waktu dan komitmen untuk bersama. Apalagi, kekayaan yang Na miliki belum seberapa. Jika Na adalah orang tuanya maka hal yang wajar bila ia akan menitipkan anaknya kepada calon suami yang jauh lebih mapan (karir dan keuangan). Ya… Sudahlah. Ini sudah selesai. Na harus membuat pilihan baru.

Hmm.. Sebenarnya tahun ini ada hal-hal yang ingin Na persiapkan. Hal yang paling utama adalah membuat portofolio untuk melamar pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik. Ada dua opsi: kerja di luar negeri (merantau) atau kerja remote dari rumah tetapi penghasilan benar-benar menggunakan mata uang negara mereka (US Dollar, Euro, GBP, atau AU Dollar - Sydney). Ma, Na berharap semoga semua dilancarkan. Na berharap agar Na tetap diberi umur panjang dan bisa menjaga kesehatan fisik dan mentalnya Na. Na masih ingin menikmati hidup dan hidup bersama kedua adiknya Na.

Na merasa saat ini seperti seseorang yang mendayung kapal di dalam kegelapan dan diselimuti kabut. Na tidak tahu ujungnya ke mana. Bahkan Na membayangkan dirinya Na seperti orang berjalan di atas jembatan tanpa tali pengaman di sisi kanan dan kiri. Sewaktu-waktu bisa jatuh kapan saja. Na berpikir apakah saatnya Na butuh pendamping hidup atau belum. Ini sangat berat! Tetapi, ini juga ujian untuk membuat Na menjadi lebih kuat.

Oh iya, sepertinya Na punya kriteria perempuan pilihannya Na. Cantik, tentu saja. Pintar, tentu saja. Nyaman diajak ngobrol, tentu! Sayang dengan keluarganya Na, tentu! Baiklah, jika ditanya kapan akan mencari jodoh dan menikah mungkin diantara usia 36 sampai 42 tahun. Hahahahaha. Waktu yang panjang. Well, I think it’s a good plan at this moment. You know that I’m a head of family know. Na akan menunggu momen di mana Na bisa bersandar di pangkuan perempuan yang Na pilih ketika waktunya tiba. Atau mungkin kisah cinta-nya Na akan seperti film Sore. :)

Sampai jumpa di tulisan-nya Na ke-32 tahun. Na sayang mama dan bapak. 🤗